72 KM GOWES

72 km Gowes, Siapa Takut?

 

Catatan Perjalanan: Nita Juanita

 

Aku bersama tim gowes Sub. Bagian Keuangan; Kasubag Deden Rendra NR., SE., M.Si, Yayan Sudianto, SE, dan Heri Herdiana, telah mempersiapkan mental dan fisik, jauh hari sebelum keberangkatan ke Pangandaran. Ini perjalanan menggunakan sepeda yang ke empat setelah bergabung dengan tim Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan.

Beberapa tempat sebelumnya yang pernah aku tempuh bersama tim gowes Disdikbud yaitu; down hill Gunung Keling Kecamatan Cigugur – Pacuan Kuda Kecamatan Kuningan (13,2 km), Curug Bangkong Kecamatan Nusaherang (15,6 km), dan Desa Andamui Kecamatan Ciwaru (28,2 km). Semuanya masih termasuk wilayah Kabupaten Kuningan. Agenda ini rutin dilakukan hari Jumat.

Pada hari Sabtu, tanggal 22 Agustus 2020 jadwal gowes menyusuri pantai selatan. Diprakarsai oleh Kasi PTK PAUD, Tedy Swasdiana, SH dan dukungan Kadisdikbud, Drs. H. Uca Somantri, M.Si. Diikuti sekitar 30 pegawai Disdikbud, baik Kabid, Kasi, Kasubag, maupun pelaksana, empat di antaranya perempuan (Pak Kadis menyebutnya Srikandi Gowes Disdikbud), dan ada beberapa orang kenalan bapak Kadis.

Sudah tidak asing mendengar pantai Pangandaran. Terkenal sebagai tempat wisata paling populer di Jawa Barat. Merupakan andalan Kabupaten Pangandaran (pemekaran dari Kabupaten Ciamis) yang terletak di sebelah tenggara Jawa Barat, tepatnya di Desa Pangandaran, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat.

Pantai Pangandaran memiliki pasir pantai berwarna putih dan air laut yang cukup jernih. Kedua pesona ini menjadi penyambut kedatangan wisatawan tatkala menginjakkan kaki pertama kali. Kawasannya terbagi menjadi dua bagian yakni pantai Pangandaran Barat (pantai Pananjung) dan pantai Pangandaran Timur. Keduanya dipisahkan oleh sebuah daratan yang menjorok jauh ke dalam laut atau biasa disebut teluk.

Harga tiket masuk bervariasi; pejalan kaki Rp. 3.000,-, sepeda motor Rp. 7.000,-, bus kecil Rp. 80.000,-, bus besar Rp. 169.000,-, bus sedang Rp. 104.000,-, kendaraan jenis sedan dan jeep Rp. 28.000,-, kendaraan penumpang besar Rp. 40.700,-, dan kendaraan jenis carry Rp. 35.000,-.

Mengenai fasilitas tentu sudah lengkap, tersedia area parkir, tempat ibadah, kamar mandi plus WC, ruang ganti, lapak penjual makanan, dan juga penginapan. Harga sewa penginapan per malam dimulai dari Rp. 200.000,-.

Setelah dicabut peraturan PSBB dan Pangandaran melonggarkan persyaratan bagi wisatawan tidak perlu rapid test, hampir satu bulan ini animo kunjungan padat luar biasa. Mengutip pikiran-rakyat.com, “Setiap libur panjang, Pangandaran selalu disesaki pengunjung. Apalagi kali ini lebih banyak dari libur HUT RI kemarin. Saya deg-degan juga sebagai bupati. Ekonomi bangkit tapi kesehatan juga harus terjaga dengan baik, karena penyebaran Covid-19 tidak boleh terjadi!” tegas H. Jeje Wiradinata.

Menurut informasi dari Ketua Pelaksana Timsus Retribusi Wisata Pangandaran, Dadan Sagita, “Selama dua hari; Jumat (21/8) pengunjung ada 28.953 orang dan Sabtu (22/8) 30.677 orang.” Tepat di depan Bulak Laut Hotel & Resort, di mana tempat rombongan gowes Disdikbud menginap, tim gabungan melakukan razia masker, serta edukasi pentingnya melakukan protokol kesehatan.

22 Agustus 2020, aku, Neng Bela, dan Neng Idzni sudah siap menyambut pagi. Menyusuri pantai timur Pangandaran, sekadar menikmati suasana berbeda. Biasa berada di kaki gunung, kali ini di kawasan laut. Berburu sarapan pagi karena jam 07.00 WIB harus sudah kumpul.

Tiap orang mengecek sepedanya. Alhamdulillah, Pacific-ku siap tempur! Meskipun bukan sepeda baru, akan tetapi memiliki nyawa muda, sehingga menimbulkan spirit menggebu. “Melaju terus kita susuri Indonesia!” yakinku.

Bismillah, diawali doa bersama sebelum keberangkatan, pukul 07.40 WIB bikers Disdikbud memulai perjalanan Pantai Timur Pangandaran menuju Pantai Batu Karas. Sejauh 36 km akan kulahap dinginnya aspal bersama Pacific. Cuaca mendung menyelimuti pagi, gerimis pun turun perlahan. Walau diguyur hujan tidak menyurutkan semangat goweser.

Tidak terlepas dari mengabadikan momen, aku dan tim gowes foto bersama di beberapa titik keberangkatan. Start dari Bulak Laut Hotel & Resort, tulisan “Pangandaran Sunset”, patung ikan, dan terakhir finish di tulisan “Pantai Batu Karas.”

Jalanan yang lurus dan panjang, ditambah cuaca teduh, membuat aku mengayuh dalam keadaan mengantuk, hehe, bisa-bisanya. Sedikit sekali menemukan tanjakan dan turunan. Driving safety tidak dilupakan, sepatu, celana, baju, sarung tangan, masker, kacamata, dan helm sudah membungkus seluruh tubuh, dari ujung kaki hingga ujung rambut.

Dari Pantai Timur Pangandaran menyusuri beberapa jalan raya di antaranya; Jalan Pamugaran, Jalan Raya Cijulang, Jalan Raya Parigi, Green Canyon, Jalan Pantai Indah, Pantai Batu Karas. Sepanjang perjalanan pemandangan sangat menyejukkan mata, apalagi ketika melewati kawasan Green Canyon dan Hutan Mangrove. Aku di kawal Pak Kasi Hipa, berada di belakang Pak Kadis, Neng Bela, beberapa rekan yang sudah jauh di depan dan tidak terlihat pandangan mata. Di belakang masih banyak yang lain yang juga belum tampak.

Green Canyon dipopulerkan oleh seorang Perancis pada tahun 1993. Orang Sunda menyebutnya dengan sebutan Cakung Taneuh, dalam bahasa Indonesia berarti Jembatan Tanah. Hutan Mangrove dikenal sebagai Kawasan Pusat Restorasi dan Pembelajaran Mangrove (PRPM) Batu Karas.

Aku sampai pukul 10.20 WIB, selang sekitar 15 hingga 20 menit dengan yang di belakang. Tiket masuk Pantai Batu Karas cukup murah, bagi pejalan kaki Rp. 1.500,- , sedangkan pengguna kendaraan bervariasi. Namun, aku tidak dikenakan biaya sedikit pun. Entah mungkin karena naik sepeda dan bersama rombongan gowes Disdikbud. Pantai ini beralamat di Jalan Pantai Indah, Desa Batukaras, Cijulang, Pangandaran, Jawa Barat. Jam operasional buka 24 jam penuh setiap hari.

Ternyata Pantai Batu Karas masih satu garis pantai dengan Pantai Pangandaran dan Pantai Batu Hiu. Ditemukan oleh seorang raja bernama Rd Katomas dan sang istri, Masimah yang merantau dari Bojong Loa, Bojong Ganteng menuju pesisir selatan Pantai Pangandaran. Destinasi ini berasal dari kata batu dan karas, yang bermakna batu yang keras.

Yang kurang suka hiruk pikuk, rekomendasi dijadikan tempat liburan. Kawasan wisata ini cocok untuk peselancar pemula dan kelas menengah. Selain itu bisa pula mencoba aktivitas air yang menguji nyali, seperti naik Banana Boat, Gladiator, dan Ufo. Terdapat camping ground bagi pehobi kemah pun ingin menikmati suasana alam.

Di Pantai Batu Karas istirahat cukup lama, sekitar satu setengah jam. Aku, A Yayan, A Heri foto bersama Pak Kadisdikbud. Semua gowesers menikmati sejuknya angin pantai dan memulihkan tenaga dengan minum degan.

Setelah cukup beristirahat, pas azan Zuhur, semua bersiap untuk menempuh lagi perjalanan pulang ke Pantai Timur Pangandaran. Karena ingin buang air kecil, aku sempat ke kamar mandi umum, dan tertinggal jauh. Sudah yakin paling belakang, mengayuh agak kencang dengan tujuan menyusul rombongan di depan. Tampak A Iksan, A Feri, dan A Yayan balik arah. “Apa mereka menyusulku karena tertinggal?” batinku. Ternyata tujuan mereka membeli bakso yang selintas lalu melihat tukangnya mendorong gerobak ke arah yang berlawanan. Ketiban rezeki, alhamdulillah turut serta makan semangkuk bakso.

“Neng Nita ada di belakang atau di depan? Sama siapa? Baiklah, A Tedi tunggu ya, di belokan masuk ke jembatan bambu.” Lewat gawai Pak Kasi Tedi menanyakan keberadaanku dan menyampaikan informasi.

Usai makan bakso lanjut perjalanan, ternyata jembatan bambu mampu memangkas sekitar 5 km, tidak melewati Hutan Mangrove dan Green Canyon. Tentu saja ini membuat aku gembira, karena tadi berangkat benar-benar melewati jalan utama. Dengan perasaan dag-dig-dug aku mengikuti A Yayan yang mengayuh sepedanya. Agak takut dan terlintas pikiran, “bagaimana kalau jembatan putus?”

Keluar jalan pintas, dari jauh aku melihat beberapa teman yang sudah naik mobil pick-up. Tetiba A Yayan memanggil-manggil, “Hei, tunggu! Ini Neng Nita bawa di mobil.” Tanpa banyak bicara aku turuti perkataannya. Padahal merasa masih mampu untuk terus melahap jalanan pulang. Aku, Neng Idzni, dan Bu Kabid naik mobil di samping sopir, beberapa teman lelaki di belakang menjaga sepeda. Sedangkan Neng Bela melanjutkan perlajanan gowes hingga garis finish.

Turun dari mobil pick-up aku menemani A Heri dan A Tonik makan. Berhubung perut sudah terisi, hanya kopi dan makanan ringan yang kupilih. Menyusul Pak Dede Satpam dan A Asep turut makan. Yang lain langsung menuju hotel.

“Alhamdulillah Pak, sekarang Pangandaran ramai lagi. Awal PSBB sepi pisan, penerangan dibatasi. Sudah mah, sepi pengunjung, ditambah paroek. Ih, sapertos kota mati, da. Keueung,” cerita Teteh penjaga warteg dengan logat Sundanya.

Beres makan siang, aku, A Heri, dan A Tonik mengayuh sepeda menuju Pantai Barat. Tujuannya mencari oleh-oleh untuk keluarga di rumah. A Heri membeli jambal roti, harga bervariasi Rp. 45.000,-, Rp. 60.000,-, Rp. 75.000,-, Rp. 90.000,- yang sudah kering. Ada yang masih basah di dalam lemari pendingin, harganya mencapai ratusan ribu rupiah. A Tonik mencari pakaian untuk anaknya. Beruntunglah mereka menungguku yang agak banyak berbelanja.

Bukan hanya cerita happy yang dialami. Ada kejadian tak terduga di balik layar yang tidak banyak terekam kamera. Pak Kasi Wawan mimisan, dikarenakan pusing akibat cuaca siang yang panas saat arah pulang, dan perut dalam keadaan kosong. A Heri yang hilang keseimbangan dan terjatuh dari sepeda. Pak Kabid Emup dengan rantai sepeda putus, sehingga istrinya mencari karena kehilangan jejak. Pak Kasubag Deden hanya menempuh setengah perjalanan, karena mengurusi pengadaan makan untuk para bikers. Pak Kasubag Edi pun sama, karena kram tidak melanjutkan perjalanan. Barangkali masih ada kejadian lain yang belum sempat aku ketahui.

Tidak menunggu esok, sore pukul 17.00 WIB, aku, A Yayan, A Heri, A Tonik, dan Pak Dede sudah beranjak pulang ke Kuningan. Sunset yang kutunggu tenggelam di ufuk barat bersama Neng Bela, Neng Idzni, A Aris, A Fajar, A Farhan yang bermain di derunya ombak.

72 km sudah ditempuh. Selanjutnya, ke mana lagi, Tim Gowes Disdikbud? Tak sabar menanti.